Tampilkan postingan dengan label motif batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motif batik. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

arti dari simbol batik parang asli indonesia

Salah satu motif batik yang terkenal adalah parang. Motif ini mempunyai ciri khas garis-garis lengkung, yang dapat diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam (raja). Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat, sehingga pemakainya diharapkan dapat sigap dan cekatan.

Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927.

Dalam perkembangannya, motif parang memunculkan banyak variasi, seperti Parang Rusak, Parang Barong, Parang Kusuma, Parang Nitik, Parang Klithik, Parang Slobog, dsb.

Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata).
Jenis-jenis motif parang
1. Parang Rusak
Motif ini merupakan motif batik sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Pada jaman dahulu, Parang Rusak biasanya digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu Raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan.
Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Konon, sang raja sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng (tebing) berbaris. 
Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat bertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak
2. Parang Barong
Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi.
Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri
3. Parang Klitik
Motif batik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Dulu motif batik ini hanya dikenakan oleh para putri raja.
4. Parang Slobog
Motif batik yang menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran.
Motif ini dulu dipakai pada upacara pelantikan para pejabat pemerintahan, karena melambangkan harapan agar para pejabat selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Selain untuk pelantikan pejabat, Slobokan atau parang Slobog hanya boleh dikenakan dalam acara pemakaman saja. Hal ini merupakan simbolisasi harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditingalkan juga diberi kesabaran dalam menerima cobaan kehilangan salah satu keluarganya.

Rabu, 11 Desember 2013

Makna Simbolik Motif Batik buatan indonesia

Batik merupakan warisan kesenian nenek moyang bangsa Indonesia. Seni batik ini memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Batik sangat menarik bukan semata-mata hasilnya, akan tetapi juga proses pembuatannya. Batik mulai berkembang pada zaman kerajaan majapahit dan penyebaran islam di Jawa. Pada awalnya batik hanya dibuat terbatas oleh kalangan kraton saja. Hasilnya kemudian dipakai oleh raja dan keluarga serta para pengikutnya. Selanjutnya oleh para pengikutnya batik di bawa keluar kraton. Dari situlah seni batik mulai berkembang di masyarakat.
Pada awalnya setiap motif batik mempunyai makna filosofis. Makna-makna tersebut menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal. Sampai sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan, seperti batik di bawah ini:
TRUNTUM
Truntum merupakan salah satu jenis batik kraton. Motif truntum merupakan salah satu motif batik yang berasal dari Yogyakarta, akan tetapi dapat juga ditemui di daerah lain seperti Surakarta. Truntum berasal dari tumtum artinya tumbuh kembali, namun ada yang mengatakan bahwa trumtun berasal dari kata tumaruntum yang berarti menuntun atau sering juga dikaitkan dengan tentrem (bahasa Jawa) yang berarti terteram. Motif truntum ini diciptakan oleh istri Raja yang sedang dilupkan karena Raja memiliki kekasih baru. Untuk melupakan kepedihan hati, sang Ratu mulai membatik dengan motif bintang kecil di langit yang selama ini menemaninya dalam kesepian. Dengan disertai doa agar sang Raja kembali padanya. Ketlatenan Ratu dalam membatik dapat menarik perhatian Raja kepada sang Ratu kembali, sehingga cinta kasih yang hilang dapat tumbuh kembali. Motif truntum biasa digunakan oleh orang tua pengantin pada saat pesta perkawinan yang melambangkan harapan agar orang tua mampu menuntun/memberi contoh kepada putra-putranya dalam memasuki kehidupan berumah tangga dan mencapai ketenteraman hidup.

SIDOMUKTI
Sidomukti merupakan salah satu jenis batik kraton juga. Motif batik sidomukti berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Motif ini merupakan motif asli dan kuno. Sidomukti berasal dari kata Sido yang berarti jadi atau menjadi atau terus menerus Mukti berarti mulia dan sejahtera. Jadi Sidomukti berarti menjadi mulia dan sejahtera. Kain batik ini biasa dikenakan oleh calon mempelai pria dan wanita pada saat akad nikah. Peristiwa tersebut dianggap suatu saat yang amat penting dalam kehidupan. Maka sangatlah wajar apabila dalam peristiwa tersebut disertai suatu harapan dan doa mempelai yang digambarkan di dalam unsur-unsur motifnya dan dirangkai menjadi satu kesatuan motif ceplok. Unsur-unsur motif dalam sidomukti yang biasa dirangkai adalah:
  • Sawat adalah sayap garuda sebagai lambang Ketuhanan
  • Bangunan atau Candi, sebagai lambang karya atau usaha
  • Tumbuhan dan bunga, sebagai lambang kesejahteraan hidup atau kebahagiaan lahir daan batin yang merupakan tujuan hidup berkeluarga.
Motif ini melambangkan harapan suatu kehidupan yang mulia dan sejahtera tanpa melupakan Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Dengan suatu usaha keras dalam berkarya untuk memcapai suatu kesejahateraan lahir batin dan selalu bersyukur atas keberhasilan yang di capai merupakan Karunia Tuhan Yang Maha Esa.

GROMPOL
Grompol merupakan salah satu jenis batik keraton Yogyakarta. Grompol atau Grombol dalam bahasa Jawa berarti berkumpul atau bersatu. Kain batik dengan motif ini biasa dikenakan pada saat upacara perkawinan oleh orang tua mempelai, baik calon mempelai pria atau calon mempelai wanita. Motif Grompol ini melambangkan harapan pemakai bahwa akan berkumpul semua sanak saudara dan tamu-tamu sehingga pesta perkawinan dapat berjalan meriah. Juga berkumpulnya semua hal yang baik yaitu rejeki, kebahagian, kerukunan hidup, keteraman untuk kedua keluarga mempelai. Namun juga dengan harapan bahwa pasangan keluarga baru itu nanti sejauh kemanapun perginya tetap akan dapat berkumpul atau mengingat kepada induknya atau keluarga besarnya.      
    
PARANG RUSAK BARONG
Parang Barong merupakan salah satu jenis batik keraton Yogyakarta. Parang Barong merupakan salah satu dari bermacam-macam motif parang. Parang berarti senjata dan Barong berarti besar. Parang Barong merupakan modifikasi dari motif Parang Rusak dengan ukuran ragam luas motif utama berukuran 12-15 cm. Motif parang merupakan motif geometris yang dalam penataan motifnya menerapkan ragam hias mlinjon yang berasal dari kata mlinjo. Tanaman mlinjo sangat merakyat karena seluruh bagiannya (daun, bunga, buah, kulit biji) dapat dimanfaatkan. Selain dari pada itu diantara ragam hias pokoknya pada ujung lengkungan parang terdapat ragam hias uceng yang merupakan ragam hias lung yaitu stiliran dari bunga mlinjo.
Para Barong biasa dikenakan oleh Sultan/Raja sebagai kain kebesaran yang bermakna kekuasaan serta kewibawaan seorang Raja. Untuk lingkungan kraton, motif ini tidak boleh dipakai oleh orang lain selain Raja dan keluarganya.
Motif batik parang rusak barong ini berasal dari kata batu karang dan barong (singa). Parang barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya, motif ini hanya boleh digunakan untuk raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
Kata barong berarti sesuatu yang besar dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif parang rusak barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.

SIDO MULYO
Batik motif Sidomulyo merupakan jenis batik keraton. Motif batik ini berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Motif ini termasuk motif lama khas Surakarta, halus, rumit serta membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam pembuatannya.
Sido dalam bahasa Jawa berarti jadi atau terus menerus, sedangkan mulyo berarti mulia. Kain batik dengan motif sidomulyo biasa dipakai oleh mempelai baik pria maupun wanita pada saat upacara perkawinan dengan harapan bahwa kelak keluarga yang dibina akan terus menerus mendapatkan kemuliaan. Meskipun andaikata mereka dalam hidup ini mungkin mendapatkan kesulitan dan kerumitan, tetapi dengan doa dan usaha yang telaten dan sabar dan tekun, maka semua kesulitan akan teratasi dan mereka tetap atau jadi (sido) dianugerahi kemuliaan, atau apabila kain batik ini diberikan atau dihadiahkan melambangkan seseorang maka pemberian ini melambangkan doa yang tulus dan mulia untuk si pemakai.

TAMBAL
Tambal dalam bahasa Jawa artinya menambal atau memperbaiki sesuatu menjadi lebih baik. Motif ini  merupakan perpaduan berbagai motif yang diilhami pakaian para pendeta yang terbuat dari kain bertambal. Dipercaya pakaian pendeta itu dapat melawan pengaruh-pengaruh jahat atau tolak bala.
Konon, orang sakit yang menggunakan motif tambal sebagai selimut akan lekas sembuh. Menurut Serat Sanasunu karya R.Ng. Yasadipura II, rakyat biasa dilarang memakai motif Tambal Kanoman karena menimbulkan sesuatu yang tidak baik. Motif ini pun sebaiknya tidak dipakai pengantin karena dikhawatirkan akan mendapat kesulitan ekonomi. Seperti telah disebutkan di atas motif tambal diilhami dari pakaian pendeta yang bertambal. Pakaian itu sering dianggap sebagai pakaian orang miskin.